Saat berbelanja di pasar tradisional, saya sempat berbincang singkat dengan seorang ibu rumah tangga. Ia bercerita bahwa ikan yang dibelinya terasa “aneh”, karena tetap segar meski sudah disimpan dua hingga tiga hari. Awalnya ia merasa senang. Namun perasaan itu berubah menjadi ragu setelah mendengar cerita tetangganya tentang bahan pengawet berbahaya yang sering disalahgunakan.
Sejak saat itu, ia mengaku lebih berhati-hati memperhatikan tekstur, aroma, dan sumber makanan yang dibelinya. Pengalaman sederhana ini menunjukkan bahwa banyak konsumen sebenarnya berada di posisi yang sama, menginginkan makanannyz bisa awet, tetapi juga ingin memastikan keamanan bagi keluarga mereka.
Pernahkah anda membeli ikan, tahu, atau mi basah yang tampak segar berhari-hari meski disimpan di suhu ruangan? Bagi sebagian orang, makanan yang tidak cepat rusak sering mereka anggap menguntungkan. Namun, para ahli keamanan pangan justru mengingatkan bahwa kondisi ini bisa menjadi tanda adanya risiko yang tidak terlihat.
Di berbagai daerah, isu penggunaan bahan pengawet ilegal dalam makanan masih menjadi perhatian. Meski sudah lama dilarang, praktik ini belum sepenuhnya hilang dan kerap meresahkan konsumen. Masalahnya, tidak semua orang menyadari bahwa makanan sehari-hari yang tampak baik-baik saja bisa menyimpan ancaman bagi kesehatan jika dikonsumsi terus-menerus.
Lembaga kesehatan dan pakar gizi menekankan bahwa paparan zat berbahaya dari makanan tidak selalu menimbulkan dampak instan. Justru, efek jangka panjang yang sering luput kita sadari menjadi alasan utama mengapa kewaspadaan konsumen sangat penting.
Berdasarkan pengamatan di pasar tradisional dan temuan yang kerap diberitakan oleh otoritas keamanan pangan, masih ditemukan bahan pangan segar yang secara fisik tampak terlihat awet dibandingkan kondisi normalnya.
Mengapa Ada Makanan yang Terlihat Lebih Tahan Lama dari Sewajarnya?
Dalam kondisi normal, bahan pangan segar memiliki batas ketahanan alami. Ikan, tahu, atau mi basah biasanya akan menunjukkan tanda-tanda penurunan kualitas setelah beberapa waktu. Namun, pada praktik tertentu, makanan bisa tampak terlihat awet lebih lama karena penggunaan bahan pengawet yang seharusnya tidak diperuntukkan bagi pangan.
Para ahli menjelaskan bahwa bahan pengawet tertentu memang efektif menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Itulah sebabnya makanan terlihat lebih keras, tidak mudah berlendir, dan tidak cepat berbau. Sayangnya, efektivitas inilah yang justru menimbulkan kekhawatiran ketika zat tersebut disalahgunakan dalam produk makanan.
Apa Kata Pakar Keamanan Pangan dan Kesehatan?
Badan kesehatan dan peneliti internasional telah lama mengatakan bahwa tidak semua bahan pengawet aman untuk dikonsumsi. Beberapa zat kimia hanya diperbolehkan untuk keperluan industri tertentu dan dilarang digunakan sebagai bahan tambahan pangan.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Kementerian Kesehatan RI secara terus menerus mengingatkan bahwa tidak semua bahan kimia yang mampu mengawetkan produk layak digunakan sebagai bahan tambahan pangan. Beberapa zat hanya diperuntukkan bagi kebutuhan industri non-pangan dan penggunaannya dalam makanan dilarang karena berisiko bagi kesehatan.
Berdasar pengalaman saya yang banyak berkecimpung dalam urusan pengoahan makanan, sebenarnya ada pengawet dengan merk dagang tertentu yang mendapat rekomendasikan dari Majelis Ulama Indonesia. Itupun jumlah pemakaiannya dengan batas tertentu.
Kajian di bidang kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa paparan zat berbahaya melalui makanan dapat menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan, gangguan pernapasan, hingga meningkatkan risiko masalah kesehatan yang lebih serius jika terjadi secara berulang dan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, regulasi dibuat untuk membatasi peredaran dan penggunaan bahan-bahan tersebut secara ketat.
Dampak Kesehatan yang Tidak Selalu Langsung Terasa
Salah satu tantangan terbesar dalam kasus ini adalah sifat dampaknya yang sering kali tidak langsung. Konsumen mungkin tidak merasakan keluhan serius setelah satu atau dua kali mengonsumsi makanan bermasalah. Namun, paparan berulang dapat menumpuk masalah kesehatan dalam tubuh. Contoh kasus sebagaimana yang terjadi pada kawan karib saya yang mengalami serangan kanker.
Dalam banyak kasus, memang dampaknya tidak langsung terasa, tetapi bisa muncul perlahan dalam bentuk keluhan yang terus berulang dan sulit ditelusuri penyebabnya. Inilah mengapa para ahli merekomendasikan bahwa pencegahan jauh lebih penting dibandingkan menunggu gejala awal muncul.
Jenis Makanan yang Perlu Lebih Diwaspadai
Meski tidak semua produk bermasalah, ada beberapa jenis makanan segar yang kerap menjadi perhatian karena mudah disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Di antaranya:
- Ikan segar, yang tampak terlalu putih, sangat kenyal, dan tidak mudah rusak meski dibiarkan lama.
- Mi basah, yang awet berhari-hari dan memiliki tekstur tidak biasa dan biasanya berwarna mengkilat.
- Tahu, yang tetap keras dan tidak berlendir meski disimpan lama di suhu ruang.
Ciri-ciri tersebut tidak selalu berarti berbahaya, tetapi bisa menjadi tanda awas bagi konsumen untuk lebih berhati-hati.
Mengapa Praktik Ini Masih Terjadi?
Pengamat pangan menilai bahwa faktor ekonomi sering menjadi pemicu utama. Makanan yang lebih awet mengurangi risiko kerugian bagi pedagang karena barang tidak cepat rusak. Namun, keuntungan jangka pendek ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan konsumen.
Kurangnya kesadaran, pengawasan yang tidak merata, serta rendahnya literasi pangan di sebagian masyarakat juga turut memperpanjang masalah ini. Karena itu, edukasi konsumen menjadi salah satu kunci penting dalam memutus rantai praktik berbahaya tersebut. Walau patut juga kita akui, edukasi ini hanya bersifat lintas telinga saja, masuk dari kuping kiri dan keluar lagi di kuping kanan.
Langkah Sederhana agar Konsumen Lebih Aman
Para ahli menyarankan konsumen untuk lebih selektif dan kritis saat memilih bahan makanan. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
- Memilih bahan pangan dari sumber terpercaya
- Menghindari makanan yang tampak terlihat awet secara tidak wajar
- Memperhatikan bau, tekstur, dan perubahan warna
- Tidak tergiur harga murah tanpa mempertimbangkan kualitas
Kesadaran kecil dalam keseharian seperti ini dapat memberikan perlindungan besar bagi kesehatan konsumen dalam jangka panjang.
Kesimpulan
Makanan yang tampak segar dan tahan lama memang terlihat menarik, tetapi konsumen perlu memahami bahwa tidak semua yang awet berarti aman. Penggunaan bahan pengawet ilegal dalam pangan masih menjadi tantangan yang membutuhkan kewaspadaan kita bersama.
Alih-alih merasa takut, konsumen justru perlu dibekali pengetahuan agar mampu membuat pilihan yang lebih aman. Dengan meningkatkan kesadaran dan kehati-hatian, risiko dari makanan bermasalah dapat ditekan, dan kesehatan jangka panjang pun lebih terjaga.
Artikel ini bertujuan meningkatkan kesadaran konsumen, bukan menimbulkan kepanikan, agar masyarakat dapat lebih bijak dalam memilih bahan pangan sehari-hari. Sangat saya anjurkan sekali untuk memilih makanan pangan melalui proses organik. Untuk memahami hal ini baca selengkapnya dalam artikel budidaya tanaman organik.



